Sabtu, 09 Agustus 2014

Polygon Metro 3.0 Longterm Test

Yes, judulnya bahasa inggris tapi isinya bahasa campur aduk indonesia. 
Waktu itu (di)beli(in) sepeda Polygon Metro 3.0 aseli dari dealernya. Kebetulan Metro 3.0 sekarang sudah direpackage (ganti nama) menjadi Urbano. Versi yang sekarang kelir dan stiker nama lebih ceria dan harganya nambah dikit (efek inflasi mungkin). Setelah 3 tahun dipakai dan kayaknya jarak tempuhnya mendekati 1000 km, inilah hasil reviewnya.



1. Karet Handlebar sobek
Handlebar jadi bagian yang selalu dipegang, makanya karet handlebar kadang bisa terpelintir dan sobek. Jaman gue duluuu naik sepeda, gear shifternya model dorong, jadi karet handlebarnya kaku. Mungkin kita bisa berkaca ke handlebar motor, sisi kiri mesti firm, yang kanan harus ikut melintir (grip gas) dan di Metro 3.0 gear shifternya model pelintir (twist). 
Solusinya: handlebar grip kiri bisa di lem, tapi nanti kalo mau ganti handlebar grip bakal merepotkan.



2. Munculnya karat di mudguard roda belakang
Karat yang muncul ini bisa berasal dari berbagai sumber: 
  • Sisa air/kotoran yang menempel dan tidak dikeringkan/bersihkan, 
  • Material berkualitas rendah sehingga mudah berkarat.
Solusi: rajin-rajinlah mencuci sepeda, dan ganti ke mudguard yang anti karat.




3. Speed yang terbatas
Kebanyakan rute yang gue lalui terdiri dari jalan raya yang sepi hingga sangat ramai. Sepinya jalan membuat kendaraan lain (motor, mobil) bisa melaju lebih cepat, dan hal ini membuat sepeda dengan 1x6 speed ini kewalahan. Dengan 6 speed diperkirakan top speednya mencapai 30 km/jam. 
Kenapa seli perlu ngebut? Yah kadang pesepeda butuh akselerasi cepat saat di jalur yang menyatu atau ketika akan menyalip kendaraan yang lain. 
Kalo pas macet sih gue malah merasa aman. *kode.
Solusi: tambah gear ato nabung stamina untuk saat-saat yang diperlukan.

4. Tidak ada shock absorber depan 
Kalo elu pikir naik sepeda itu bakal nyaman dan menyenangkan, salah! 
Apalagi di ibukota, jalan banyak undak-undakan gorong-gorong, lobang bahkan speedbump ato polisi tidur bikin city cycling itu lebih bahaya. Apakagi kalo tambalan aspal dari Dinas Pekerjaan Umumnya jaaaaaauh lebih tinggi dari tutup selokan itu. Hiiiii... 
Makanya gue rasa gue butuh front shock buat melibas semua lobang. Kalo menimbang Metro 3.0 yang ini, hantaman (bukan bantingan) yang keras bisa berdampak ke jari-jari, velg, fork bahkan nyawa pesepedanya.  
Solusi: ganti sepeda, ato ganti front shock aja ato set tekanan ban jadi medium, biar hantaman jalan pun bisa agak teredam.


5. Jok yang berputar
Bahan dasar Polygon Metro 3.0 sepertinya dari aluminium, ringan tapi tidak sekeras besi. Ditambah pula dengan pergerakan pengendara membuat grip kursi kadang berputar/melintir sendiri. Tambah lagi kalo ada kotoran yang nyempil. Semakin sering dipakai makan gripnya dirasa kurang kuat memegang tangkai jok. Sampai saat ini (untungnya) belum kejadian amblesnya jok sepeda.
Solusi: ganti grip kursi ato tangkai dudukan jok, tambahkan penyisip biar ga gerak atau usahakan mode mengendarai pengendara (riding style) ga rusuh.
6. Jok belakang yang (nyaris) tak berguna
Jok belakang dengan ketinggian kira-kira 50 cm dari bawah, kira-kira apa fungsinya? 
Membonceng orang? tidak. 
Membonceng anak-anak? bisa, asal ada child seatnya. 
Menaruh barang? Bisa, asal ada karet pengikatnya. Karet inilah yang jadi nilai jual jok belakang Polygon Urbano, adik dari Polygon Metro.

Yah, itulah kritik gue terhadap sepeda Polygon Metro 3.0. 
Kalo soal keuntungan Metro 3.0, gue suka karena desainnya kompak, dimensi kecil, wheel base pendek cocok buat nyelip-nyelip di jalan sempit dan macet.

Senin, 07 Oktober 2013

JERIN Event 2011, John Rabe movie screening



Blogging about Jerin (personal opinion)

Jerin Festival 2011 (John Rabe).


Pertama tau acara ini gara-gara diajak ma temen yang kerja di Ekonid “eh ada acara nonton film jerman gratis nih di XXI Epicentrum Walk, mau ikut ga?”
“Gratis?”
“Gratis... Palingan cuma perlu konfirmasi aja berapa orang yang ikutan.”
Acaranya namanya apa gitu, waktu itu lupa sih hehe, isinya ya nonton bareng film jerman di XXI Epicentrum Walk.
Karena gue dulu alumni training InWEnt, organisasi jerman di bidang pelatihan non formal dan lulusnya masih baru (2 tahunan) maka sense of Deutschland bleibt noch im Herz.

Nyampe disana, kira-kira setengah jam sebelum acara masih sepi, baru segelintir orang yang dateng. Beberapa jam sebelum pintu dibuka, ramailah suasana. Pada awalnya seat penonton diatur sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket, namun setelah masuk dan penonton terus masuk maka sistem penomeran tempat duduk jadi tidak berlaku. Kalo ga salah ada penonton yang duduk di tangga lorong deh.
Antusiasme penonton cukup tinggi, maka filmnya dimulai.

John Rabe adalah film dokumenter yang berasal dari kisah nyata John Heinrich Detlev Rabe, seorang manager pabrik Siemens di Nanjing  pada era Perang Dunia II, pada saat itu Jerman adalah sekutu dari Jepang, maka pabrik Siemens itu “tergolong“ aman dari serangan tentara Jepang. Namun tentara Jepang kian curiga akan eksistensi pabrik tersebut karena diduga menyembunyikan pasukan tentara China.Filmnya seru, dengan adegan perang yang cukup realistis dan lebih cocok untuk ditonton oleh penonton dewasa.
Konflik fisik dan emosi John Rabe terhadap keagresifan tentara Jepang membuatnya harus berputar otak, apalagi sebenarnya John Rabe tidak mendukung Hitler, memelesetkan "Heil Hitler" menjadi "Heil Hinter" (bokong).

Setelah pemutaran film, ada wawancara singkat sutradara film Florian Gallenberger Yang dipandu oleh teh Nia Dinata. Menurut Florian flm tersebut beberapa adegannya tidak sesuai dengan realita pada saat itu dan menarik juga untuk disimak bahwa saat film tersebut dibuat, banyak warga senior kota Nanking yang masih mengingat jasa John Rabe dalam melindungi rakyat kota Nanking dari serangan tentara Jepang.
Beberapa adegan tidaklah senyata aslinya, dramatisasi diperlukan, eksploitasi kekejaman tentara Jepang pada beberapa adegan tidaklah sekejam di dunia nyata.
 
Sayangnya di JERIN event 2011 ini gue ga sempet nonton film-film lain (kalo ga salah ada 4-5 festival nonton film berbahasa jerman gratis).
Well done JERIN and other participating agency to hold such event.



Rabu, 02 Oktober 2013

What i thought about free trade agreement

ASEAN FTA and other agreement schemes.

What a coincidence i wrote about this topic, its complicated, boring and its a conceptual agreement that occured in the cloud (my words for high government policies, offices, bureaucrats etc.), its not down to earth and tangible as i usually wrote about.

ASEAN free trade agreement and other agreement is an agreement was composed in order to ease goods transfer from one country to other, will less barrier. Whats the point of it? 

As ASEAN countries progress their development, bureaucracy and economy, ASEAN free trade only become misery to countries that left behind its bureaucracy.
With ASEAN FTA, it become more cheaper to deliver cars from Thailand to Surabaya than before. 

Only a few companies eager to build businesses in least progressive countries like Indonesia and Cambodia than put its feet/representative/plant/ headquarter in Malaysia, Singapore or Thailand. There are more conducive, more investment friendly, most attractive, most sexy, politically stable etc.
So Indonesia as the most populated ASEAN country only become the market, but the plant is in other country. The analogy to EU, Indonesia has its population size like Germany (the motor of EU), but Singapore has its GDP size. 

As Indonesia is craving for foreign investment, other neighbour are sexier in terms of infrastructure, bureaucracy, labour dispute and security. So? 

By invite businesses build plants in Indonesia, it will also increase Indonesias economic value. "Hey, our economy is good cos Toyota has plant here bla3x..."

Common people/ general
public wont feel the misery, common people will enjoy "more affordable" cars (if the price is decreasing, but i have doubt on it), more affordable and good quality imported products etc.

Those misery are felt by economic experts, businessmen and the government in the election. Opposition or pressure group will emphasize this "failure" to build own economy to gain vote.

Solution? Either fixed the license process in regional level, rebuild the infrastructure or enjoy the misery deeper.

2014 will be the judgement year for ruling party, due to trade deficit /misery that runs deeper.


Senin, 23 September 2013

Tips membeli powerbank

Selain beli hape pintar atau tablet, suplai setrum itu signifikan alias penting banget. Apalagi banyak airport, stasiun, mal, atau kendaraan umum seperti kereta atau bis yang tidak ramah dengan peralatan elektronik, numpang ngecharge sulit, maka berbondong-bondong orang-orang beli powerbank. 

Powerbank ada bermacam merk, mainstream ataupun mandarin (chinese) maksudnya. Yang mainstream (merk besar seperti samsung) muahal, untuk kapasitas 6000mah harganya nyaris mencapai sejuta! 

Untuk pengguna hape pintar yang pas-pasan budgetnya maka beli powerbank merk china. 
Hippo n vivan itu yg terkenal gencar beriklan, kalo gue waktu itu beli hippo powerbank 5800mah. 
Hippo powerbank:
Plus: ini yang sulit, soalnya hampir semua powerbank mirip. 

Negatif: kalo udah lama dipake, kabel ori suka ga konek ma hape. Yang lebih parah, kadang charging ga detect ma iphone. #tepokjidat.



Tips membeli powerbank:
1. Pastikan beli powerbank yang ukurannya setidaknya sama atau lebih kecil daripada hapenya. Malu euy pake powerbank segede aki tapi hapenya seimut tangan bayi :p

2. Makin gede kapasitas menampung setrum maka makin mahal harganya dan makin besar pula ukurannya.

3. Periksa kelengkapan adaptor n kompatibilitas antar adaptor-kabel-gadget. Beberapa gadget (terutama apel krowak) kadang suka ga detect dgn powerbank!

4. Makin besar kapasitas mah (mili amperehour) maka makin besar daya tampung setrumnya, dan juga makin mahal harganya.

5. Cek kompatibilitas dengan gadget yang mau dicharge. kalo ga detect ngapain dibeli?

Pengalaman pake hippo powerbank 5800mah yang diklaim bisa untuk charging iphone 4x itu tidak terbukti, akhir2 ini malah hanya bisa mencharge 2,5-3x saja. 
Mungkin ada kesalahan dlm charging powerbank, dunno bout that. Makin lama kayaknya kemampuan nyimpen setrumnya makin sedikit deh :(

Kamis, 22 Agustus 2013

Perang mobil sejuta umat

Karena struktur keluarga Indonesia masih cukup besar, maka mobil dengan kapasitas penumpang banyak masih diminati.

Mobil sejuta umat, mobil MPV low class dengan penjualan terbanyak di indonesia, kakak-adik Avanza Xenia, Suzuki Ertiga n Nissan Evalia.

TV, kotak yang mentransmisikan gambar bergerak ini masih jadi primadona iklan di indonesia, makanya kita lihat iklan mereka satu persatu.

Eh ini kan mbahas iklan, bukan soal ekonomi bla3x, so lets go.

Appeal: semua iklan sama, mencoba menampilkan nyamannya berkendara dijalanan yang kosong, menampilkan keceriaan dan anggota keluarga naik mobil bersama-sama, menyampaikan pesan bahwa mobil ini muat sekian orang dengan lega.

Decision making: beli mobil itu berat, mengingat harganya yang mahal dan kira2 97% orang indonesia beli mobil dengan cara diangsur (data anonim). Makanya research mendalam sering dilakukan konsumen, membandingkan harga, fitur, konsumsi bensin, jaringan purnajual hingga diskon ricecooker/kompor gas/kaca film yang ditawarkan oleh sales. 

Persepsi:
Lapang alias lega juga menjadi nilai jual untuk menjual mobil keluarga, semua iklan mobil memiliki interior warna terang, dan warna terang mempersepsikan mobil tersebut lapang. 

Dengan menampilkan model melakukan aktivitas tertentu dalam iklan, seperti pada iklan Avanza, model memperagakan mengambil boneka paus dari dalam mobil.
Video iklan avanza 2013


Yang jadi pertanyaan, apakah boneka paus ini memang muat kedalam mobil tanpa melipat jok baris A? 
Sang model berkata "muat kok", tapi geraknya malah mengeluarkan boneka paus dari dalam mobil, jadi?
Menariknya kalo lihat iklan secara keseluruhan, mobilnya kembali berjalan dengan isi TV plasma didalamnya, bukan boneka paus, so?

Iklan Xenia:
Iklan dengan interior warna terang menampilkan band terkenal (aduh namanya lupa!!) yang anggotanya terdiri dari 4 orang untuk ikut masuk kedalam mobil. 2 orang dewasa masuk baris ketiga Xenia, terlepas dari tinggi badan mereka adegan langsung melompat ke konser mereka menyanyikan lagu "Xeniaaa... Xeniaaaaaa....!"

Iklan Suzuki Ertiga:
Produk baru MPV suzuki berhidung ini katanya laku keras, link disini (artikel mengenai betapa larisnya Suzuki Ertiga), dengan variasi transmisi matik n AC baris ketiga, menariknya Suzuki sampai membuat iklan baru untuk menggadang2kan fitur baru ini, masih menggunakan artis yang sama.

Nissan Evalia:
Kalo pake Livina ngebandinginnya ketinggian, makanya pake Evalia, Video iklan Nissan Evalia.
Mereka ga pake interior warna terang, tapi warna gelap! Dan menyiasatinya dengan model berkaos bola warna terang.

Aaah bahasan ini makin ga karuan karena mixed up sama bahasan spesifikasi mobil...

Kembali soal iklan, semuanya menggadang2kan sebagai mobil keluarga, Xenia n Ertiga menggunakan selebriti untuk memperkuat penyampaian pesan sementara Avanza mencoba mengingatkan penonton bahwa sudah banyak yang pake Avanza, narasi "terkenal serba bisa, tak heran berjuta keluarga INGIN memilikinya", agak ganjil??

Narasinya malah menyatakan bahwa banyak orang yang INGIN punya alias BELUM banyak yang beli.  
Mestinya sih narasinya diganti jadi "berjuta keluarga TELAH memilikinya," tanda bahwa konsumen puas. Puas? Beneran?

Evalia? Masih mencoba mencari pijakan dengan tagline "everyday Evalia." Awal launching masih sering lihat iklannya, tapi makin kesini makin jarang.

Ertiga, ini yang paling ASYIK, mencoba menarik penonton dengan narasi "test drive yuk?"
Kapan lagi bisa mencoba barang yang high-involvement and intensive decision making begini.
Ertiga mencoba mem-bypass proses menyebalkan dalam mengevaluasi fitur mobil idaman.

Video menarik soal Evalia:

Jadi makin bingung beli mobil? 
Ga juga, kadang emotional decision  bypasses those complicated rational one.

Selasa, 20 Agustus 2013

Awas penipuan!

Pernah ditelpon nomer2 berikut?

Well, hati2 dengan penipuan.

Barusan (tadi siang) abis ditelpon nomer +62 21 78834587 (021-78834587), mas2 nanya soal kartu kredit. Emang beberapa bulan lalu gue apply kartu kredit. 
Dua nomer yang atas miskol brapa kali, tapi ga gue angkat.

Percakapannya begini:
"Gimana pak, kartu kredit dari visa/mastercardnya sudah diterima?"

"Sudah mas..."

"Ada berapa kartu yang diterima?"

"Satu." 
Dalem hati: Emang aplikasi kartu kredit bisa dapet banyak kartu gitu?

"Kami mau menawarkan kartu diskon pak... Bapak sekarang ada dirumah atau kantor?"

Dalam hati: Eh, kartu diskon? Kayaknya pernah nih ditelpon ma yg beginian. Nanya posisi rumah ato kantor?

Gue jawab, "dirumah."

Iya pak, kita mau nawarkan kartu diskon...", langsung gue potong "ngga mas.."

Langsung ditutup! 

Kalo dia bener nawarin kartu diskon (yang bener diskon), pasti dia ngeyel dulu (kayak sales asuransi XXX), nah yang ini langsung kabur.

Trus dia bilang mau dkirim ke rumah ato kantor?
Berarti dia tau alamat gue, semua data diri gue! What??!
Darimana dia bisa tau? Pasti orang2  dalem "perbankan" ini share ato jual beli data konsumen.

Share data konsumen ini ga cuma data perbankan, tapi data membership supermarket cs.

Coba aja lu inget pas sign membership ritel tertentu, beberapa hari kemudian banjir SMS penawaran aneh2!

Pelajaran dari ini: ga usah sign in membership bla3x, sometimes it worth it, but mostly not. 
Its a long story, i'll tell you later.
 
Damn it! Mana nih pihak berwenang yang bisa nertibin sales aneh2 ato penipuan kayak gini??? 
Masak nunggu pejabat yang jadi korban??

Minggu, 11 Agustus 2013

Knowledge and skill is perishable, transferable and non rust-free

How many top athletes return from their pension to the field and gain their golden age for second time? Not so many.

Remember Michael "Schumi" Schumacher? world seven times Formula 1 championship had his glorious years in 1994-1995, and with Ferrari in 2000-2004. During his pension Schumi worked as consultant for Ferrari, working behind screen.

Unfortunately when he returns in 2010, he cannot compete as strong as he was in Ferrari. 
I think this is one sign that skill is perishable, if you dont use it will degraded, and less frequent you used it, you'll become blunt. 

Knowledge and skill is transferrable, take example on Keke and Nico Rosberg.
The father (Keke) won 1982 Formula 1 championship and son yaaa quite close to the championship, ignore fact that Mercedes AMG Petronas team in 2012 had many difficulties (source unknown), but Nico Rosberg did won in China (2012), and next year he won in Monaco and Great Britain. 
Nico has the ball and skill to race, which I think he had derived from his father, in many qualifying session he got pole position in season 2010-2013, and some said that with that skill he deserve world champion title, nevertheless winning on racing had various factors involved, including team.

Now, get back to our situation, where you had some knowledge and skills to do something good, whether we were born with it or we achieve it from formal education. 

When we step out to the job bourse, the real life and then we got an employment that is not suitable to our current skill/knowledge/education background, this gap will deteriorate it, makes us blunt. Then we're left behind, drowned in work routine, busyness and from 8 to 4. 

This situation is different when we compare to those work in similar scope as they've studied in college or having skill on it.
These people wont get "early dementia", as they keep apply their knowledge, and even got the chance to develop it further.

My idea is to preserve our brain, our last remaining knowledge, skill  and source so it can be applied in some places to create masterpiece or achieve outstanding performance or we can transfer it to others who need it.